Selasa, 10 Januari 2012

I’sha, Wanita Punk yang Menjadi Muallaf

Selama beberapa bulan terakhir ini, Lucy Osborne telah mewawancarai perempuan-perempuan di Inggris yang telah masuk Islam. Tulisan ini adalah tulisan Lucy Osborne yang dikirimkan ke The Times tentang peningkatan jumlah perempuan Inggris yang memeluk Islam. Tapi, mengapa mereka masih dipandang dengan penuh kecurigaan.
Jumlah mualaf di Inggris meningkat dua kali lipat dalam 10 tahun dan hampir dua pertiganya adalah perempuan. Lucy Osborne, yang berprofesi sebagai jurnalis lepas (freelance) sekaligus penulis ficer, menyelidiki mengapa hal ini terjadi.
I’sha adalah salah satu wanita mualaf yang diwawancarai oleh Lucy Osborne. Keluarga I’sha tidak menyetujui pilihan I’sha untuk menjadi seorang muslim. Keluarga semakin tidak setuju karena I’Sha dalam kesehariannya menggunakan pakaian niqab yang hanya memperlihatkan kedua bola matanya.
“Ketika saya pertama kali memberitahu orangtuaku bahwa aku menjadi seorang Muslim, mereka tidak ingin ada yang tahu. Apakah itu keluarga atau tetangga,” kata I’Sha (40) yang masuk Islam sejak empat tahun lalu. ”Mereka tidak bisa mengerti keputusan saya.”
Lingkungan kini menentang I’Sha yang telah memutuskan untuk masuk Islam. ”Orang-orang di mana saya dibesarkan kini berbalik melawan aku. Mereka tidak ingin anak-anak mereka bersama dengan anak-anak saya. Mereka menilai saya sudah gila.”
Seperti banyak orang, agama tidak tumbuh dalam kehidupan sehari-hari. Jika I’Sha pulang dari sekolah dan berbicara tentang Tuhan, ayah selalu akan mengatakan,”sekarang, hanya ada satu Tuhan di sini dan itu saya.”
Temukan Jalan Pulang
I’sha, seorang pekerja perempuan pendukung di Masjid London Timur, berasal dari Newcastle. Dia adalah salah satu dari 100.000 orang Inggris yang saat ini telah masuk Islam. Menurut hasil studi Faith Matters oleh Kevin Brice dari Universitas Swansea, sebanyak 5.200 warga Inggris tahun lalu telah menjadi mualaf.
Pengalaman I’sha tidak biasa. Mayoritas publik Inggris masih memandang Islam, yang merupakan agama terbesar kedua di Inggris, sebagai sebuah keyakinan yang aneh dan asing. Tapi, I’sha tidak seperti kebanyakan orang yang berpikir negatif tentang Islam.
“Saya justru merasa seperti sudah pulang,” katanya. “Melalui Islam, saya telah menemukan jawaban atas segala pertanyaan yang saya punya. Saya telah menemukan kedamaian sejati.”
I’sha dulunya adalah seorang punk. Dia memakai pakaian yang potongannya terbilang ‘memalukan’. I’Sha tentunya berpotongan rambut Mohican yang mirip landak. Adiknya secara terbuka memproklamirkan diri sebagai seorang lesbian.
Ketika mengatakan kepada keluarganya, teman dan rekan-rekan bahwa dia telah memeluk Islam, I’Sha mengatakan bahwa dirinya tetap tidak berubah. “Saya mencoba untuk meyakinkan mereka bahwa aku masih si lidah panjang dari utara seperti dulu. Tetapi, menjadi seorang Muslim itu tidak dilihat sebagai sesuatu yang ‘cool’.”
”Ketika orang melihat Anda berkulit putih dan orang Inggris, maka mereka benar-benar berperilaku kasar terhadap Anda. Karena, mereka berpikir bahwa Anda telah kembali pada cara hidup mereka,” tambah I’sha.
Dari : KisahMuallaf.com

Sayed Man, Si Gangster Itu Pun Menangis Saat Mendengar Al Quran


Saat pindah ke bagian barat Jerman, usai tembok Berlin runtuh, Sayed Mann, kala itu 12 tahun, adalah bocah yang tengah bingung mencari identitas diri. Keluarganya berasal dari Jerman Timur.
Tumbuh besar di lingkungan sosialis, agama tidak pernah ada dalam kamus keluarga dan hidupnya. Ia cenderung tersenyum sinis saat melihat orang-orang pemeluk keyakinan tertentu, termasuk Muslim,
Di Jerman Barat ia melihat situasi yang berbeda. Imigran lebih banyak dijumpai dan ia pun berkawan dengan beberapa orang asing.
“Saya tidak terbiasa dengan kehidupan baru saat itu,” aku Sayed. “Kami tiap hari hidup seperti sampah. Idola kami adalah orang-orang kulit hitam Amerika yang tinggal di pemukiman terisolir,” tuturnya.
Mengidolakan mereka, pria yang dulunya bernama Sved Mann itu pun juga mencontoh perilaku para imigran itu. “Saya melakukan banyak hal buruk termasuk mencuri dan sebagainya,” kenang Sayed.
Hingga akhirnya ia bertemu dengan seorang imigran berasal dari Turki yang menjadi kawan akrabnya. Si kawan itulah yang kemudian mengenalkan Sayed pada Islam dan berhasil mengajaknya memeluk agama tersebut.
Kawan Sayed memiliki kakak lelaki seorang imam masjid lokal. Ketika si adik memberi thau niatnya untuk mengajak Sayed berkunjung ke masjid, sang imam mengaku pesimis.
“Saya bilang, ‘Dia? Tidak Mungkin’. Tapi adik saya sudah bertekad bulat. Bahkan ia mengatakan Sayed akan memeluk Islam sepulangnya saya dari bepergian,” tuturnya.
Tiga bulan kemudian, ketika si imam pulang kembali ia tiba-tiba disambut oleh Sayed dengan sapaan Assalamu’alaikum. “Wow saya terkejut. Ini benar-benar luar biasa,” ujarnya. “Saya bahkan sempat bertanya (pada Sayed-red) ‘Apa yang terjadi padamu?’”.
Rupanya si imam memahami selama ini Sayed selalu mencari, namun ia tak pernah-pernah meluangkan waktu dan cenderung mengabaikan ketimbang bersungguh-sungguh.
“Ia mengatakan selalu percaya dengan keberadaan Tuhan, saya kira itulah yang menuntun dia,” kata si imam. “Saya melihat ia bahagia telah menemukan Islam.
Kini si imam bahkan menjadi guru mengaji Sayed. Dengan disiplin ia belajar bahasa Arab demi dapat membaca Al Qur’an
Tapi Sayeed tak ingin disebut pindah agama. “Tak pernah ada istilah berubah agama dalam Islam,” ujarnya. “Dalam Al Qur’an disebutkan tak ada paksaan dalam beragama,” imbuh Sayed lagi.
Lalu? “Saya lebih suka mendeskripsikan sebagai ‘seseorang telah mengenalkan saya pada Islam dan saya menuju agama itu,” papar Sayed.
Ketika ditanya oleh Cengiz Kultur, sebuah proyek independen pembuatan film dokumenter tentang agama dan budaya di Jerman, mengapa ia memilih Islam, dengan mantap Sayed menjawab, “Karena pada akhirnya semuanya adalah, Islam,” ujarnya menekankan pada makna kata tersebut yakni berserah diri.
Ia telah mengucapkan ikrar dengan syahadat sepuluh tahun lalu. Sejak saat itu ia rajin membaca untuk mengetahui dan mengenal lebih dalam apa makna Islam, termasuk bagi dirinya.
Islam bagi Sayed adalah menyerahkan keinginan diri di bawah kehendak Tuhan. Mengapa ia mau melakukan? “Karena dengan itu nanti saya dapat bertemu dengan Pencipta saya, saya dapat menjumpai surga. Saya berhak untuk itu dan saya kira itulah Islam menurut saya saat ini,” papar Sayed ketika ditanya esensi Islam o
Sejak sepuluh tahun pula, Sayed melakukan shalat lima kali dalam sehari. “Ketika anda shalat anda absen dan istirahat dari dunia dan seluruh isinya. Anda membersihkn dan menghadap Sang Pencipta,” ujarnya.
Ia mengaku tak ada strategi khusus untuk melakukan shalat lima kali dalam sehari di Jerman. “Setiap orang pasti bisa menemukan tempat untuk berwudhu, membasuh diri dan melakukan shalat,” ujarnya tanpa beban.
Sayed mengaku menemukan keyakinannya setelah diskusi panjang dengan si kawan tadi dalam satu malam. “Setelah itu saya langsung menyatakan ingin pergi ke masjid bersamanya,” ungkap Sayeed.
Ketika itu subuh dan seorang anak kecil tengah melantunkan ayat-ayat suci Al Qur’an. Tiba-tiba Sayed pun menangis. “Saya tidak tahu mengapa. Saya tidak paham bahasa Arab, saya tidak tahu apa yang ia baca, tidak tahu apa pun,” kenangnya.
“Tapi hati saya jelas telah memahami sesuatu. Itu benar-benar pengalaman luar biasa,” tutur Sayed. “Saya yang hidup di jalan ala gangster tiba-tiba bisa menangis dan tidak tahu mengapa.”
Kini selain ketenangan dan keteraturan hidup Sayed juga menemukan hal berharga lain dalam Islam. “Ketika anda menjadi seorang Muslim, anda kehilangan teman tetapi anda mendapatkan saudara,” ujarnya. Dengan segera anda menjadi anggota sebuah keluarga. Ini sesuatu yang tidak bisa saya peroleh dalam gereja-gereja di Jerman.”
dari :KisahMuallaf.com

Mantan Pastor Itu Berkisah Kenapa Pilih Islam


Bukan saya yang mencari Islam, Islam yang menemukan saya,” kata Idris Tawfiq. Ia berbicara di depan akademisi dan keluarga besar universitas papan atas Inggris, Cambridge. Di perguruan tinggi ini tengah dihajat acara tahunan Experience Islam Week, acara untuk pengenalan Islam dan toleransi.
Ia mengaku, tak ada masalah dengan masa lalunya. “Saya mencintai pekerjaan dan masa lalu saya, namun hati saya seperti dipandu memilih Islam,” katanya. “Setelah menjadi Muslim, saya menemukan kedamaian yang tak pernah saya temukan sebelumnya.”
Menurutnya, keputusannya memilih Islam adalah keputusan terbesar dalam hidupnya. Ia masih melakukan pelayanan, ketika kemudian hatinya berbicara lain. Sampai suatu saat, timbul keberanian untuk menyatakan behenti dan mundur. “Saya merasa sendiri setelah itu,” katanya.
Pertama kali, ia menyatakan berhenti menjadi pastor. Namun, ia tetap memegang kayakinan lamanya, sambil terus belajar Islam. “Saya tidak bermaksud mengubah iman saya itu bukan bagian dari rencana saya sama sekali,” katanya.
Ia menyatakan, tinggal dan besar di Inggris selama 40 tahun, ia punya pandangan stereotip tentang Muslim. Tapi saat liburan di Mesir, ia bertemu dan berteman dengan banyak orang Muslim, dan mengatakan bahwa ia mulai menyadari persepsi tentang keyakinan Islam. “Keyakinan lama saya perlahan luntur, dan Islam menjadi lebih menarik perhatian saya,” katanya.
Menurutnya, ajaran Islam sebenarnya sangat indah. “tak benar Islam mengajarkan kekerasan. “Jika Anda menyelami ajaran Islam, Anda akan menemukan ajaran agama ini benar-benar sangat indah, sangat lembut, dan manis,” katanya.
Ia menyarankan satu hal bagi mereka yang tengah belajar Islam. “Sebelum Anda membuah keputusan, tarik nafas dalam-dalam dan dengarkan apa kata Islam. Kemudian, penahi pola pikir Anda,” katanya.
Saat ini, Tawfiq memutuskan untuk tinggal di Mesir. Ia mengaku tak gamang dengan perubahan politik di negeri itu. “Satu hal yang diajarkan Islam adalah, jangan pernah terkejut dengan apapun yang datang dalam kehidupan kita. Di Mesir, semua terbukti. Siapa yang menduga hanya dalam tiga pekan tiran yang 30 tahun lebih berkuasa bisa tumbang,” katanya.
Dari : KisahMuallaf.com

Senin, 03 Januari 2011

FANATIK TAPI MUNAFIK

Artikel dari sebuah situs internet

FANATIK TAPI MUNAFIK

SATU di antara perilaku luhur yang konon dimiliki bangsa Indonesia adalah beragama atau religius. Seabrek contoh dicoba diajukan untuk membuat percaya dalam dan luar negeri bahwa bangsa ini shalih dengan agama yang dianutnya, antara lain rajin ke tempat ibadah semisal Masjid, Gereja atau Vihara. Kaum Muslim –dengan rasa berat hati penulis jadikan contoh mengingat mayoritas di Indonesia– seakan terkesan begitu shalih. Umat begitu antusias ke Masjid untuk shalat atau menyimak ceramah, berpuasa sunnah selain wajib di bulan Ramadhan, kadang ada yang bolak-balik ke tanah suci untuk menunaikan ibadah Haji dan Umrah. Namun apa output segala ibadat atau keshalihan ritual terhadap kehidupan sosial, atau apakah keshalihan ritual menjamin terbentuk keshalihan sosial seperti jujur, rajin, tepat waktu, sopan atau berbagai disiplin lainnya?

Kasus Indonesia jelas membuktikan bahwa keshalihan ritual belum tentu sejalan dengan keshalihan sosial. Kedua hal tersebut seakan sulit menyatu bagai sulitnya air berlarut dengan minyak. Bahkan mungkin Indonesia dapat menjadi wakil dari keadaan tersebut di dunia Muslim. Korupsi menempati nomor 6 di dunia dan pornografi menempati urutan kedua, jelas membuktikan bahwa kehidupan ritual dan sosial seakan berjalan sendiri-sendiri. Indonesia tetap atau masih dikenal sebagai negara korup, preman, mistik atau segala jenis kebobrokan hukum/moral lainnya.

Bangsa Indonesia mengalami masalah kepribadian ganda dalam soal adab. Dasar atau fitrah yang memang barbar ditambah penjajahan yang demikian lama agaknya menempatkan Indonesia sebagai bangsa yang (mungkin) paling bejad.

Kebejadan paling dasar bangsa ini dapat disimak dari mental syiriknya. Sebelum bangsa ini mengenal agama dari luar, berbagai pemujaan terhadap berbagai sosok yang dinilai besar, indah, mengagumkan atau menakutkan semisal pohon besar, batu besar, gunung, matahari atau petir telah berlangsung lama. Hal tersebut masih bertahan walau secara formal telah menganut agama tertentu.

Ziarah kubur yang dimaksudkan untuk mengingat mati dan akhirat diselewengkan menjadi ‘ritual’ untuk memohon berkah atau selamat kepada orang yang telah menjadi bangkai atau tulang belulang, karena dinilai sebagai sosok keramat atau suci. Kebejadan lain yang menyertainya adalah bahwa berkah atau selamat yang dimaksud lebih cenderung bercorak duniawi ketimbang ukhrawi semisal minta harta, jodoh, anak, disukai lawan jenis atau disayang atasan.

Coba tengok ke tempat ziarah di seantero Nusantara semisal Banten, Cirebon, Demak, Imogiri bahkan di kota-kota besar semisal Jakarta. Para pengemis –asli maupun palsu– dengan sigap memanfaatkan kepercayaan tersebut untuk minta-minta sedekah kepada peziarah, ditambah tukang copet yang tanpa segan-segan beraksi di tempat yang dinilai keramat tersebut.

Faham pra Islam lain yang masih bertahan adalah ritual seperti selamatan sekian hari untuk yang mati: 40 hari, 100 hari, 1000 hari. Pada mulanya para ulama pada awal masa da’wah Islam di Jawa membiarkan tersebut untuk sementara. Pertimbangannya, masyarakat Jawa yang baru mengenal Islam tidak kaget karena terbiasa dengan ritual tersebut sebagai dampak pengaruh Hindu-Budha sekitar 1500 tahun lamanya.

Sebagai awal perubahan, pelan-pelan mereka mengubah mantra dengan do’a. Permainan wayang –yang akrab dengan masyarakat Jawa– diselipkan dengan pesan-pesan Islami. Namun kebiasaan tersebut menjadi berkepanjangan karena da’wah terhambat oleh konflik dengan imperialis Barat. Kekuatan asing tersebut bahkan bergabung dengan kekuatan yang masih berfaham pra Islam untuk menghambat da’wah Islam yang murni sesuai dengan kitab dan sunnah.

Konflik berkepanjangan dengan konspirasi anti Islam tersebut berakibat banyak aset umat semisal masjid dan pesantren rusak, para ulama banyak yang tewas, hilang atau ditangkap. Dampaknya, rakyat yang waktu itu masih mengenal Islam sebatas kulit, menjadi kehilangan tuntunan. Rakyat kembali melaksanakan ritual pra Islam dicampur dengan Islam, hal yang berlangsung hingga kini.

Potensi umat terkuras oleh perang sehingga da’wah menjadi terbelakang. Terpeliharalah “penyakit” umat yang terangkum dalam singkatan TBC (Tahyul, Bid’ah, Churafat) hingga kini. Kaum Muslim cenderung menerima apa saja yang dikatakan ulama atau kiyahi tanpa mencoba mengolah dengan logika (taqlid), umumnya banyak terdapat di pesantren. Berbagai ritual yang tak jelas sumbernya atau sulit dipertanggung jawabkan secara ‘aqliyyah maupun naqliyyah bermunculan di tengah umat (bid’ah), jika ada yang menyangkal langsung ditanggapi dengan emosional, bukan rasional.

Faham yang bukan-bukan semisal sekian hari setelah kematian arwah si mati akan mengunjungi rumah keluarganya juga masih belum lenyap. Padahal dalam ‘aqidah Islam jika seseorang telah mati maka arwahnya berada di alam barzakh, bukan gentayangan di dunia.

Praktek mistik semisal santet, adalah bentuk praktek pra Islam yang masih lestari bahkan di daerah-daerah yang dikenal dengan kental nuansa Islami semisal Banten dan Jawa Timur. Hal tersebut diperparah karena praktek tersebut tidak segan-segan menyelewengkan ayat-ayat al-Qur-an atau do’a-do’a Islam lainnya, semisal untuk memikat lawan jenis, mencelakakan orang yang dibenci atau disayang atasan. Ada yang mempelajari dan mengamalkannya sendiri, ada pula yang minta bantuan kepada orang-orang yang ahli tentang itu, lazim disebut dukun.

Memang, pada hakekatnya kejahatan adalah kebaikan yang diselewengkan. Tuhan telah menciptakan alam semesta –termasuk dunia– dalam keadaan baik, tetapi dirusak, diselewengkan oleh manusia sehingga dunia betul-betul menjadi rusak. Namun ironisnya, dunia yang kelak disalahkan sebagai penyebab “kerusakan” manusia, padahal dunia adalah ciptaan Tuhan jua sebagai bentuk kasih-Nya kepada insan.

Penyelewengan sesuatu kebaikan berlaku juga untuk al-Qur’an, banyak ayat-ayat yang dipakai untuk yang bertentangan dengan hakekat ayat itu sendiri. Contoh yang sederhana mungkin begini, jika al-Qur’an dibaca dari kanan ke kiri insya Allah akan menjadi rahmat atau berkah, namun jika dibaca dari kiri ke kanan atau dibolak-balik begitu rupa bukan mustahil menjadi santet atau sihir.

Penulis pernah menemukan kitab-kitab yang menggunakan huruf atau bacaan berbahasa Arab untuk tujuan sihir atau apalah istilahnya, lazim dikenal dengan sebutan mujarabat. Isinya antara lain tolak bala terima laba. Inilah tantangan berat atau kerja besar bagi para intelek Muslim –atau apapun istilahnya– untuk melanjutkan da’wah yang tertunda akibat penjajahan yang lama, kembali pada pemurnian dan juga pembaharuan pemahaman agama.

Namun, da’wah yang mungkin begitu giat dilaksanakan agaknya mendapat hambatan –sadar maupun tidak– justru dari para intelek itu sendiri, ‘kegagalan’ para ahli agama adalah menyampaikan pesan-pesan agama yang membumi atau terkait langsung dengan corak hidup sehari-hari, sehingga secara sadar tidak sadar turut melestarikan kesenjangan antara hidup ritual dengan sosial. Mereka cenderung membahas perkara yang kurang memiliki kejelasan kaitan antara agama dengan dunia semisal cerita-cerita seputar suasana surga dan neraka, atau mereka menyampaikan pesan-pesan agama yang masih bersifat umum, cenderung kurang memberi contoh konkrit dalam hidup sehari-hari.

Memang, surga dan neraka atau tegasnya akhirat itu ada, namun bagaimana cara menyikapi akhirat selama hidup di dunia? Jika hal tersebut dibahas, penulis ulangi, masih bersifat umum semisal ajakan “mari beriman atau bertakwa kepada tuhan”. Tetapi apakah contoh konkrit iman atau takwa dalam hidup sehari-hari? Akibat kegagalan tersebut, tidak heran jika kita mungkin pernah menyaksikan atau bahkan diri sendiri merasakan hasil “masuk masjid tobat keluar masjid kumat”, yaitu kumat selingkuhnya atau maksiatnya semisal bohong atau korupsi.

Cenderung terabaikan bahwa kesempatan beragama justru ketika masih hidup di dunia, bukan di akhirat. Di akhirat, kita mendapat balasan berdasar perilaku hidup di dunia. Dengan demikian, faham sekuler tidak mendapat tempat dalam Islam. Islam tidak mengenal pemisahan antara agama dengan dunia semisal politik dan ekonomi. Namun justru kita tanpa sadar atau kadang sadar membuat pemisahan antara kedua hal tersebut. Kita rajin shalat misalnya, namun juga rajin korupsi.

Kebejadan berikut adalah kecenderungan bangsa ini menggunakan agama sebagai kedok, atau membawa-bawa ayat dan hadits jika berbicara padahal perilakunya diketahui menyimpang dari perkataannya. Mengenai ini penulis sering bertemu dengan orang-orang demikian. Contohnya dalam hal perkawinan, penulis sering dipertanyakan status lajangnya: mengapa belum juga menikah. Ketika penulis memberi beberapa alasan intelek, mereka dengan sigap berdalih, “Menikah itu sunnah rasul, lho…”

Penulis yakin bahwa bangsa ini pasti tetap berkeinginan dan melaksanakan pernikahan, walaupun tidak ada sunnah rasul. Coba kita tinjau sejarah, bangsa ini mengenal ‘budaya kawin’ jauh sebelum mereka mengenal sunnah rasul, atau tegasnya jauh sebelum kenal agama. Islam masuk ke Indonesia sekitar abad ke-7 sesudah Masehi, padahal penduduk Nusantara sudah ada sejak sekitar 3000-2000 sebelum Masehi. Ketika mereka mengenal agama (Islam), mereka agaknya mendapat peluang menjadikan agama sebagai kosmetik untuk urusan syahwat tersebut supaya terkesan elegan. Padahal, bangsa ini pada dasarnya adalah bangsa terbelakang, fikirannya tak jauh dari selangkangan. Karena itu sulit mendapat pencerahan yang akan menuntun kepada kemajuan atau capaian kemanusiaan.

Tambahan pula, jika ingin bersunnah rasul kenapa cuma menikah yang disebut-sebut? Padahal, yang namanya sunnah rasul tidak hanya menikah. Kedisiplinan, rajin, teliti, jujur mencari rezeki atau seluruh perbuatan yang tergolong amar ma’ruf nahyi munkar, adalah sunnah rasul. Bukankah rasul banyak memberi contoh perilaku demikian?

Inilah suatu bukti bahwa betapa dangkal kaum Muslim Indonesia memahami agama Islam. Pada hakikatnya bangsa ini tidak beragama, mereka sibuk mencari dunia: yang kaya menambah kekayaannya dan mengamankan asetnya, sedangkan si miskin jungkir balik demi sesuap nasi, sehingga tidak sempat membaca buku agama. Namun konyolnya, jika ada kasus yang sedikit terkait dengan agama, mereka beramai-ramai berebut omong agama, semua ingin didengar pendapatnya. Mendadak semua menjadi “pakar” agama.

Langkah untuk memperbaiki umat di Indonesia adalah terus menerus memberi pemahaman agama sesuai sumber aslinya. Jangan buru-buru menyatakan secara resmi negara ini menjadi negara Islam, apa gunanya syari’at Islam secara formal tercantum dalam konstitusi atau hukum tertulis lainnya jika umatnya belum faham atau siap? Islam mengutamakan isi, bukan kulit. Jika rakyat dengan sadar atau faham agama, tanpa mencantumkan syari’at pun dalam berbagai produk hukum, otomatis Indonesia akan menjadi Islami.

Pembentukan berbagai partai berasaskan Islam atau beramai-ramai ulama masuk partai politik atau menjadi anggota dewan perwakilan rakyat, belum dapat menjadi ukuran bahwa Indonesia menjadi Islami. Begitu banyak parpol Islam justru menunjukan bahwa kaum Muslim terpecah-belah, padahal agama menyuruh umat bersatu. Ulama masuk parpol atau berpolitik praktis berakibat ulama punya musuh politik, padahal ulama justru harus berada di atas semua golongan. Ulama menjadi anggota dewan perwakilan rakyat justru membuat asyik mengurus jabatan atau mempertahankan jabatan, bukan mengurus atau membela umat.

Bahkan ada kecenderungan ulama menjadi selebritis selain para artis, politisi atau atlit, ini mengandung resiko bahwa mereka akan berjarak dengan umat, yang mayoritas justru menengah ke bawah. Padahal ulama harus “merangkul” semua golongan. Serahkan politik, hukum atau ekonomi kepada ahlinya, namun ulama mesti menjadikan yang bersangkutan sadar atau faham untuk berperilaku agamis, semisal menjaga batas halal dan haram dalam bidang yang dijalaninya, bukan mesti menjadikannya hafal ayat dan hadits. Ini sedikit contoh saja.

Masih ada lagi kebejadan yang tak disadari padahal telah menempatkan Indonesia dalam peringkat 2 di dunia, yaitu pornografi, mencakup pula prostitusi. Praktek korupsi –yang lebih banyak bikin heboh– ternyata menempatkan Indonesia “hanya” pada peringkat 6 dunia.

Di beberapa negeri yang kita nilai bejad, ternyata berlaku pembatasan terhadap pornografi. Di Indonesia, bacaan dan tontonan porno begitu mudah dijangkau oleh yang mereka yang berusia “di bawah umur” semisal terang-terangan digelar di tepi jalan atau minimal disamarkan dengan bacaan atau tontonan “halal” yang didapat dengan bisik-bisik. Belum lagi termasuk situs internet mudah ditemukan asal tahu alamatnya, cukup diawali dengan membuka search engine Google. Dengan demikian pornografi merambah ke dalam rumah, dapat diintip tanpa perlu keluar rumah.

Keajaiban Indonesia dalam urusan syahwat tersebut adalah, betapa ada daerah-daerah yang dikenal begitu agamis ternyata banyak menghasilkan pelacur dengan berbagai istilah. Mengenai ini kalau boleh penulis sebut antara lain adalah Cirebon. Daerah ini dikenal dengan kebiasaan nikah muda –umumnya ketika panen– mengingat daerah tersebut terdapat lahan pertanian yang begitu luas, atau para orangtua menjodohkan anak pada usia muda untuk lekas bebas dari tanggung jawab. Pasangan muda tersebut cenderung boros, uang hasil panen tersebut dipakai untuk membeli perabotan dan perhiasan. Ketika masa paceklik, mulailah barang-barang tersebut dijual untuk memenuhi kebutuhan hingga habis. Kurang nafkah berakibat muncul cekcok suami-istri hingga cerai, jadilah perempuan tersebut menjadi ”janda kembang” atau “janda muda”.

Ada juga yang bercerai karena perkawinannya tidak didasarkan cinta, melainkan karena menuruti kehendak orangtua. Untuk bertahan hidup mereka memilih prostitusi di dalam maupun di luar daerahnya, bahkan dengan dukungan orangtua. Tidak jarang ada orangtua yang menjual putrinya kepada sindikat prostitusi. Konon hal tersebut telah berlangsung turun temurun, faktornya karena kemiskinan atau memiliki budaya materialistis atau konsumtif, yaitu ingin hidup enak dengan jalan pintas.

Penulis pernah melakukan semacam survey di lokasi prostitusi di dekat Merak, Banten. Dari beberapa orang yang penulis tanya ternyata mereka berasal dari satu kampung yang sama di daerah Cirebon. Sebelumnya, penulis pernah dengar dari seorang teman yang berasal dari Cirebon, bahwa desa tersebut memang gudangnya pelacur. Motif yang mereka ajukan cenderung klasik: masalah ekonomi.

Daerah tersebut juga dikenal sebagai gudang kekerasan, sejak lama tawuran antar kampung terjadi. Agaknya, jalur Pantura (pantai utara) merupakan daerah Latinnya Indonesia: berdarah panas, emosional, fanatik namun munafik. Getol beribadat (ritual) namun getol pula bermaksiat! Ini pekerjaam serius bagi para intelek yang mendambakan suasana agamis di negeri ini.

Demikianlah uraian sebuah artikel yang kami dapat pada sebuah situs internet.

Cara yang dapat ditempuh untuk maksud tersebut di atas adalah bahwa selain da’wah dengan mulut (da’wah bil lisan), juga da’wah dengan praktek (da’wah bil haal). Datangi, dekati, ajak dan ajari ummat untuk mengenal dirinya, mengenal kebesaran Tuhannya, kecilkan masalah yang menyangkut dunia, selalu perdengarkan kebaikan-kebaikan, kisah-kisah orang baik dan sukses di mata Allah, orang-orang yang memandang kebesaran akhirat dan kehidupan yang kekal abadi, seperti mereka yang patut dijadikan contoh yaitu kehidupan para sahabat Rasulullah saw. Bagaimana mereka menyikapi dunia, bagaimana mereka mentaati firman Allah dan sabda RasulNya, bagaimana mereka sangat merindukan kehidupan yang teramat indah sebagaimana dijanjikan Tuhan mereka.

Ajaklah mereka untuk makmurkan masjid (khusus bagi kaum muslimin) dengan memperbanyak mengamalkan perintah Allah dan sunnah RasulNya, kemudian untuk mengajak saudara muslim lainnya untuk melakukan hal yang sama, dengan ikhlas, dengan bekal sendiri sesuai kemampuan, dan dirinya yang berangkat, bukan orang lain dulu, untuk belajar tidak mencintai dunia, walaupun ia tetap bergumul dengan dunia dan memerlukannya.
Jelaslah bahwa hal ini bukan cuma tugas ulama, kiyai, ajengan tetapi juga presiden, menteri, gubernur, jenderal dan sebagainya. Da’wah dengan perbuatan lazim dikenal dengan istilah “da’wah bil haal”.

Insya Allah, kefakiran harta benda tidak akan menyebabkan kekafiran. Sabda Rasul, “kefakiran dapat menyebabkan kekafiran”. Tidak dengan mudah menafsirkannya dengan kefakiran harta benda dunia. Orang bilang, “Miskin dapat menggoda orang menjadi penipu, pencuri, perampok, pembunuh atau pindah agama!” itu karena miskin iman. Iman yang hanya ada di mulut itu mudah diucapkan, dan dia akan menang dalam persidangan, akan berani menyerang orang yang menuduhnya tidak beriman, akan berani demo manakala ada kepentingan tertentu atau dengan upah tak seberapa.

Orang menjadi penipu, ketika sudah kaya dari hasil penipuanpun ia akan tetap menipu sebagai ladang penghasilan. Banyak orang kaya bahkan berpangkat tinggi berprofesi sebagai penipu. Orang miskin yang menipu karena kemiskinan, barangkali karena derma dan sedekah tiada diamalkan dalam kehidupan kecuali hanya sedikit orang. Zakat yang memang jelas sebagai tuntunan ibadah, tidak digembar-gemborkan secara maksimal. Tetapi porsi yang lebih banyak justru hal-hal yang menyangkut keduniaan yang disuarakan dengan lantang oleh penulis artikel yang saya unduh dari situs di atas. “Bersekolah, berdagang, berpolitik juga dapat bernilai ibadah,” katanya. Padahal banyak orang bersekolah hasil lulusannya jadi koruptor, ujiannya nyontek, gurunya pembocor soal ujian nasional. Apa lagi? Banyak pedagang yang curang, sabda nabi menempatkan pasar (pusat perdagangan) sebagai tempat yang paling buruk dan kotor di dunia, sampai-sampai ada sabda nabi yang melarang jual beli dalam masjid.

Orang menjadi pencuri, orang menjadi perampok, orang menjadi pembunuh, setelah kaya raya mereka tetap tidak dapat mengamalkan agama secara ikhlas dan sempurna, kecuali bila ia memiliki iman yang sempurna. Sedangkan contoh iman yang sempurna hanya mengambil suritauladan dari Rasulullah saw. Dan mencontoh kehidupan para sahabat Beliau.

Orang pindah agama ada banyak karena kekurangan harta, tetapi banyak juga sebuah desa yang semua masyarakatnya sudah pindah ke agama selain Islam, kemudian ketika ada serombongan ummat Islam yang datang dan peduli mereka, dengan ramah dalam kerisauan, maka satu kampung beserta aparatnya kembali kedalam Islam, lalu mengirim beberapa pemudanya untuk belajar Islam ke sebuah pesantren. Jadi masalahnya bukan karena kefakiran harta benda, tetapi kurang kepedulian ummat Islam yang ada di daerah lainnya.

Jumat, 24 Desember 2010

Pemikiran Anehkah?


Jika aku berfikir bagaimana supaya seluruh manusia mendapat hidayah untuk menempuh jalan yang lurus sebagaimana jalan yang ditempuh para nabi dan rasul Allah, anehkah? Jika aku dan banyak dari saudara kita yang muslim bergerak ke seluruh dunia untuk silaturahim kepada sesama manusia untuk sebarkan kedamaian hidup bersama kalimat tauhid "Laa ilaaha illallah Muhammadur rasuulullah." Sesatkah jalan ini? Kalau kami berkunjung untuk mempererat tali persaudaraan sesama muslim dan mengingatkan untuk senantiasa mengamalkan ajaran Islam sebagaimana para sahabat r.anhum demi mencapai keridhoanNya, dosakah?

Banyak orang menyibukkan diri dalam kesia-siaan, misal: berburu menu masakan di berbagai kota, berlibur ke penjuru dunia, menimbun harta, dll. ini dianggap pemikiran yang wajar dan waras. Bahkan orang berlomba untuk hal seperti itu. Coba pikirkan!

Senin, 13 Desember 2010

Kunjungan Balasan


Malam ini aku berkunjung ke Warureja untuk memenuhi permintaan kunjungan balasan, yaitu ke desa Banjarsari untuk untuk silaturahmi kepada saudara muslim di sini. Alhamdulillah banyak aku temui saudara muslim, dan bertemu juga dengan sdr Sekhu, teman lama seperjuangan dulu ketika masa mudanya, kini masih saja eksis di dunianya.

Selasa, 30 November 2010

MEMBERI SATU DIRHAM LALU ALLAH MEMBERINYA SERATUS DUA PULUH RIBU DIRHAM



Dari Al-Fudhail bin Iyadh, ia berkata, seorang laki-laki menceritakan kepadaku: "Ada laki-laki yang keluar membawa benang tenun, lalu ia menjualnya satu dirham untuk membeli tepung. Ketika pulang, ia melewati dua orang laki-laki yang masing-masing menjambak kepal kawannya. Ia lalu bertanya, 'Ada apa?' Orang pun memberitahunya bahwa keduanya bertengkar karena uang satu dirham. Maka, ia berikan uang satu dirham kepada keduanya, dan iapun tak memiliki sesuatu.

Ia lalu mendatangi isterinya seraya mengabarkan apa yang telah terjadi. Sang isteri lalu mengumpulkan perkakas rumah tangga. Laki-laki itu pun berangkat kembali untuk menggadaikannya, tetapi barang-barang itu tidak laku. Tiba-tiba kemudian ia berpapasan dengan laki-laki yang membawa ikan yang menebar bau busuk. Orang itu lalu berkata kepadanya, 'Engkau membawa sesuatu yang tidak laku, demikian pula dengan yang saya bawa. Apakah Anda mau menukarnya dengan barang (daganganku)?' Ia pun mengiakan. Ikan itu pun dibawanya pulang. Kepada isterinya ia berkata, 'Dindaku, segeralah urus (masak) ikan ini, kita hampir tak berdaya karena lapar!' Maka sang isteri segera mengurus ikan tersebut. Lalu dibelahnya perut ikan tersebut. Dengan mengejutkan sebuah mutiara keluar dari perut ikan tersebut. Wanita itu pun berkata gembira, 'Suamiku, dari perut ikan ini keluar sesuatu yang lebih kecil daripada telur ayam, ia hampir sebesar telur burung dara'.

Suaminya berkata, 'Perlihatkanlah kepadaku!' Maka ia melihat sesuatu yang tak pernah dilihatnya sepanjang hidupnya. Pikirannya melayang, hatinya berdebar. Ia lalu berkata kepada isterinya, 'Tahukah engkau berapa nilai mutiara ini?'
'Tidak, tetapi aku mengetahui siapa orang yang pintar dalam hal ini', jawab istrinya.
Lalu suaminya mengambil mutiara itu. Ia segera pergi ke tempat para penjual mutiara. Ia menghampiri kawannya yang ahli di bidang mutiara. Ia mengucapkan salam kepadanya, sang kawan pun menjawab salamnya. Selanjutnya ia berbicara kepadanya seraya mengeluarkan sesuatu sebesar telur burung dara. 'Tahukah Anda, berapa nilai ini?, ia bertanya.
Kawannya memperhatikan barang itu begitu lama, baru kemudian ia berkata, 'Aku menghargainya 40 ribu. Jika Anda mau, uang itu akan kubayar kontan sekarang juga kepadamu. Tapi jika Anda menginginkan harga lebih tinggi, pergilah kepada si fulan, dia akan memberimu harga lebih tinggi dariku'.

Maka ia pun pergi kepadanya. Orang itu memperhatikan barang tersebut dan mengakui keelokannya. Ia kemudian berkata, 'Aku hargai barang itu 80 ribu. Jika Anda menginginkan harga lebih tinggi, pergilah kepada si fulan, saya kira dia akan memberi harga lebih tinggi dariku'.
Segera ia bergegas menuju kepadanya. Orang itu berkata, 'Aku hargai barang itu 120 ribu. Dan saya kira, tidak ada orang yang berani menambah sedikitu pun dari harga itu!' 'Ya',
ia pun setuju. Lalu harta itu ditimbangnya. Maka pada hari itu, ia membawa dua belas kantung uang. Pada masing-masingnya terdapat 10.000 dirham. Uang itu pun ia bawa ke rumahnya untuk disimpan. Tiba-tiba di pintu rumahnya ada seorang fakir yang meminta-minta. Maka ia berkata, 'Saya punya kisah, karena itu masuklah'. Orang itu pun masuk. Ia berkata, 'Ambillah separuh dari hartaku ini. Maka, orang fakir itu mengambil enam kantung uang dan dibawanya. Setelah agak menjauh, ia kembali lagi seraya berkata, 'Sebenarnya aku bukanlah orang miskin atau fakir, tetapi Allah Ta'ala telah mengutusku kepadamu, yakni Dzat yang telah mengganti satu dirhammu dengan 20 qirath. Dan ini yang diberikanNya kepadamu adalah baru satu qirath daripada-nya, dan Dia menyimpan untukmu 19 qirath yang lain.

Oleh : Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

MATAHARI DITAHAN TERBENAM UNTUKNYA KARENA JIHADNYA DI JALAN ALLAH


Setelah Nabi Musa as. wafat, Nabi Yusya' bin Nun as. membawa Bani Israil ke luar dari padang pasir. Mereka berjalan hingga menyeberangi sungai Yordania dan akhirnya sampai di kota Jerica. Kota Jerica adalah sebuah kota yang mempunyai pagar dan pintu gerbang yang kuat. Bangunan-bangunan di dalamnya tinggi-tinggi serta berpenduduk padat. Nabi Yusya' dan Bani Israil yang bersamanya, mengepung kota tersebut sampai enam bulan lamanya.
Suatu hari mereka bersepakat untuk menyerbu ke dalam. Diiringi dengan suara terompet dan pekikan takbir, dan dengan suatu semangat yang kuat, merekapun berhasil menghancurkan pagar pembatas kota, kemudian memasukinya. Di situ mereka mengambil harta rampasan dan menaklukkan dua belas ribu pria dan wanita. Mereka juga memerangi sejumlah raja yang berkuasa. Mereka berhasil mengalahkan sebelas raja dan raja-raja yang berkuasa di Syam.
Hari itu hari Jumat, peperangan belum juga usai, sementara matahari sudah hampir terbenam. Berarti hari Jumat akan berlalu, dan hari Sabtu akan tiba. Padahal menurut syariat di masa Nabu Musa as, pada hari itu (Sabtu) dilarang melakukan peperangan. Oleh karena itu Nabi Yusya' berkata, "Wahai matahari, sesungguhnya engkau hanya mengiktui perintah Allah, begitu pula aku. Aku bersujud mengikuti perintahNya. Ya Allah, tahanlah matahari itu untukku agar tidak terbenam dulu." Maka Allah menahan matahari agar tidak terbenam sampai dia berhasil menaklukan negeri itu, dan memerintahkan bulan agar tidak menampakkan dirinya.
Dari Abu Hurairah ra, dia berkata, Rasulullah saw bersabda, "Sesungguhnya matahari itu tidak pernah bertahan tidak terbenam hanya karena seorang manusia, kecuali untuk Yusya'. Yakni pada malam-malam dia berjalan ke Baitul Maqdis (untuk jihad)." (HR. Ahmad dan sanad-nya sesuai dengan syarat Al-Bukhori)
Diriwayatkan pula dari Abu Hurairah ra, dia berkata, "Rasulullah saw bersabda, “Ada seorang nabi dari Nabi-nabi Allah yang ingin berperang. Dia berkata kepada kaumnya, 'Tidak boleh ikut bersamaku dalam peperangan ini seorang laki-laki yang telah berkumpul dengan istrinya dan dari itu dia mengharapkan anak tapi masih belum mendapatkannya, begitu pula orang yang telah membangun rumah tapi atapnya belum selesai. Juga tidak boleh ikut bersamaku orang yang telah membeli kambing atau unta bunting yang dia tunggu kelahiran anaknya'. Maka berangkatlah Nabi itu berjihad, dia sudah berada di dekat daerah yang dia tuju saat waktu Ashar telah tiba atau hampir tiba. Maka dia berkata kepada matahari, 'Hai matahari, engkau tunduk kepada perintah Allah dan akupun juga demikian. Ya Allah, tahanlah matahari itu sejenak agar tidak terbenam. ' Maka Allah menahan matahari itu hingga Nabi itu menaklukan daerah tersebut. Setelah itu balatentaranya mengumpulkan semua harta rampasan di sebuah tempat, kemudian ada api yang datang menyambar tetapi tidak membakarnya. maka Nabi itu berkata, 'Di antara kalian ada yang khianat, masih menyimpan sebagian dari harta rampasan. Aku harap dari setiap kabilah ada seorang yang bersumpah padaku.' Maka mereka pun datang satu per satu untuk disumpah. Kedua tangan Nabi itu lengket pada tangan salah seorang di antara mereka, ia berkata, 'Di antara kabialah kalian ada yang berkhianat, aku minta semua orang di kabilahmu untuk bersumpah.' Satu persatu mereka disumpah. Tiba-tiba tangan Nabi itu lengket pada tangan dua atau tiga orang.' Kalian telah berkhianat, 'Katannya pada mereka. Lalu mereka pun mengeluarkan emas sebesar kepala sapi. Emas itu kemudian dikumpulkan dengan harta rampasan lain yang telah dikumpulkan sebelumnya di sebuah lapangan. Tiba-tiba datanglah api menyambar dan melalapnya. Harta rampasan memang tidak pernah dihalalkan untuk ummat sebelum kita. Dan dihalalkan untuk kita karena Allah melihat kelemahan dan ketidakmampuan kita.” (Diriwayatkan oleh Muslim secara sendiri).

Setelah Baitul Maqdis dapat dikuasai oleh Bani Israil, maka mereka hidup di dalamnya dan di antara mereka ada Nabi Yusya' yang memerintah mereka dengan kitab Allah, Taurat, sampai akhir hayatnya. Dia kembali ke hadirat Allah saat berumur seratus dua puluh tujuh tahun, dan masa hidupnya setelah wafatnya Nabi Musa adalah dua puluh tujuh tahun.
Oleh : Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

Minggu, 14 November 2010

Tiga Tahapan Bayi Dalam Rahim


Dalam ayat ke-6 surat Az Zumar, disebutkan bahwa manusia diciptakan dalam rahim
ibu dalam tiga kegelapan. Embriologi modern telah mengungkap bahwa perkembangan ebriologi bayi terjadi pada tiga daerah yang berbeda dalam rahim ibu.
Dalam Al Qur'an dipaparkan bahwa manusia diciptakan melalui tiga tahapan dalam rahim ibunya.

"... Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian
dalam tiga kegelapan. Yang (berbuat) demikian itu adalah Allah, Tuhan
kamu, Tuhan yang mempunyai kerajaan. Tidak ada Tuhan (yang berhak
disembah) selain Dia; maka bagaimana kamu dapat dipalingkan?" (Al Qur'an, 39:6)

Sebagaimana yang akan dipahami, dalam ayat ini ditunjukkan bahwa seorang manusia diciptakan dalam tubuh ibunya dalam tiga tahapan yang berbeda. Sungguh, biologi modern telah mengungkap bahwa pembentukan embrio pada bayi terjadi dalam tiga tempat yang berbeda dalam rahim ibu. Sekarang, di semua buku pelajaran embriologi yang dipakai di berbagai fakultas kedokteran, hal ini dijadikan sebagai pengetahuan dasar. Misalnya, dalam buku Basic Human Embryology, sebuah buku referensi utama dalam bidang embriologi, fakta ini diuraikan sebagai berikut:
"Kehidupan dalam rahim memiliki tiga tahapan: pre-embrionik; dua setengah minggu
pertama, embrionik; sampai akhir minggu ke delapan, dan janin; dari minggu ke delapan sampai kelahiran." (Williams P., Basic Human Embryology, 3. edition, 1984, s. 64.)
Disadur dari HarunYahya oleh Rika Hermawan

Fase-fase ini mengacu pada tahap-tahap yang berbeda dari perkembangan seorang bayi. Ringkasnya, ciri-ciri tahap perkembangan bayi dalam rahim adalah sebagaimana berikut:

- Tahap Pre-embrionik
Pada tahap pertama, zigot tumbuh membesar melalui pembelahan sel, dan terbentuklah segumpalan sel yang kemudian membenamkan diri pada dinding rahim. Seiring pertumbuhan zigot yang semakin membesar, sel-sel penyusunnya pun mengatur diri mereka sendiri guna membentuk tiga lapisan.

- Tahap Embrionik
Tahap kedua ini berlangsung selama lima setengah minggu. Pada masa ini bayi disebut sebagai "embrio". Pada tahap ini, organ dan sistem tubuh bayi mulai terbentuk dari lapisanlapisan sel tersebut.

- Tahap fetus
Dimulai dari tahap ini dan seterusnya, bayi disebut sebagai "fetus". Tahap ini dimulai sejak kehamilan bulan kedelapan dan berakhir hingga masa kelahiran. Ciri khusus tahapan ini adalah terlihatnya fetus menyerupai manusia, dengan wajah, kedua tangan dan kakinya. Meskipun pada awalnya memiliki panjang 3 cm, kesemua organnya telah nampak. Tahap ini berlangsung selama kurang lebih 30 minggu, dan perkembangan berlanjut hingga minggu kelahiran. Informasi mengenai perkembangan yang terjadi dalam rahim ibu, baru didapatkan setelah
serangkaian pengamatan dengan menggunakan peralatan modern. Namun sebagaimana sejumlah fakta ilmiah lainnya, informasi-informasi ini disampaikan dalam ayat-ayat Al Qur'an dengan cara yang ajaib. Fakta bahwa informasi yang sedemikian rinci dan akurat diberikan dalam Al Qur'an pada saat orang memiliki sedikit sekali informasi di bidang kedokteran, merupakan bukti nyata bahwa Al Qur'an bukanlah ucapan manusia tetapi Firman Allah.
Wallahu a’lam

JAULAH ARTINYA BERKELILING.


Sore itu serombongan Jamaah Tabligh ada di sebuah musholla tengah mengadakan program rutin, jaulah. Sebagian ada di dalam musholla, sebagian berkeliling menemui masyarakat muslim sekitar untuk ajak-ajak amalkan sholat jamaah. 4 orang anggota yang jaulah dipimpin oleh seorang di antara mereka. Dengan tertib mereka melakukan jaulah sesuai yang anjuran mudzakarah sebelumnya. Jadi sebelum jaulah ada mudzakarah tentang tata tertibnya, termasuk jaga pandangan untuk tidak melihat wanita yang ditemui di perjalanan.
Beberapa rumah sudah didatangi, beberapa lelaki sudah ditemui, dan beberapa di antara mereka ada yang langsung mau untuk pergi ke musholla untuk mendengar bayan (ceramah iman dan amal soleh) yang disampaikan oleh seorang di antara jamaah tabligh yang ada di dalam musholla. Jadilah sebuah sistem yang lengkap. Di luar ada sebagian yang mengajak dan mengantar, di dalam mushola ada yang menerima dan menyampaikan ilmu. Walhasil, jika rombongan itu diikuti oleh orang-orang yang sudah banyak ilmu tentang agama (ulama) sungguh keadaannya akan lebih baik, banyak muslim awam yang selama ini lalai oleh kewajibannya, kini mendapat pencerahan dan tergugah, walau hanya datang di mushola terdekat, mana mungkin kaum muslim yang sudah tua renta mau pergi ke pondok pesantren atau kuliah di perguruan tinggi, atau ke madrasah di kelas terendah. Namun banyak orang yang belum faham tentang ini. Jamaah Tabligh adalah tempat belajar bagi siapa saja yang masih punya nyawa, walau tua renta, untuk belajar hakikat iman. Dengan adanya iman di hati seseorang, maka ia akan mampu amalkan perintah Allah, sedikit demi sedikit.
Jamaah yang sedang jaulah, kini memasuki halaman rumah seorang tokoh di desa itu. Ketukan pintu dan ucapan salam dalil (penunjuk jalan) telah disuarakan. Dari balik pintu yang bergerak membuka itu ada seorang lelaki berwibawa, dengan wajah keruh disertai mata membelalak tanpa menjawab salam tamunya, langsung membentak,”Lagi-lagi kamu! Apa tak punya pekerjaan? Kerjanya cuma ngajak-ngajak sholat? Aku sudah tahu sholat itu wajib!
Dengan gugup para tamu itu tundukkan kepala. Dan sebelum dalil/penunjuk jalan (biasanya oleh masyarakat setempat) menyampaikan alasan, lelaki besar itu memotongnya dengan bentakan penuh kebencian,”Pergiiiii….!” Segera jamaah jaulah meninggalkan rumah itu dengan banyak menyebut nama Tuhannya.
Tak berapa lama waktunya, beberapa hari sesudah jamaah itu menyelesaikan kegiatannya di desa itu (ini menurut teman, sebagai masyarakat setempat) terdengar berita bahwa lelaki yang angkuh itu sakit perut. Makin hari makin besar dan akhirnya mati dalam keadaan perut buncit cukup besar.
Wallahu a’lam.

KISAH SEORANG PREMAN


Di suatu pagi, di sebuah musholla, ada majelis ta’lim yang diikuti oleh sekitar delapan orang di ruang utama. Majelis itu membaca sebuah kitab yang dibacakan oleh seorang di antara mereka, yang lain terlihat khusuk menyimak, seakan mereka baru mendengar apa yang dibacakan. Sering terjadi komat-kamit pada bibir mereka ketika mendengar nama Allah, Rasulullah saw. dan orang-orang suci, seperti para sahabat nabi. Itulah mereka yang sedang melakukan i’tikaf selama 3 hari di situ. Itulah mereka yang disebut oleh orang sebagai Jamaah Tabligh, meskipun nama ini bukan nama resmi yang mereka akui, namun banyak masyarakat kita yang faham bahwa mereka adalah kelompok penyampai (Jamaah Tabligh), padahal kegiatan mereka sangat banyak, termasuk belajar bagi yang baru mengenal Islam. Metode belajar inilah yang menjadi ciri khas Jamaah Tabligh, lain daripada metode belajar yang dikenal dalam dunia pendidikan. Bahkan banyak praktisi pendidikan tidak memahami metode yang satu ini. Sebagai contoh, ketika sekelompok ilmuwan dari UGM mengadakan penyelidikan terhadap kegiatan itu, mereka masih menyimpulkan bahwa mereka ini adalah kelompok atau aliran dalam suatu keyakinan, tidak dipandang sebagai metode belajar.
Dunia pendidikan mengenal secara umum bahwa belajar memerlukan ruang kelas pada sebatas almamater dengan bimbingan seorang (guru/dosen/ustadz) yang lebih berpengalaman dalam bidang ilmu yang dipelajari, sementara Jamaah tabligh memiliki ruang belajar di alam terbuka seluruh alam dengan menimba pengalaman yang tak terduga. Seperti penolakan dari masyarakat yang didatangi atau penyambutan yang luar biasa. Itu semua memerlukan sikap yang arif dan bijak sehingga tidak menimbulkan permasalahan. Sikap itu muncul seketika mereka menghadapi masalah yang timbul. Di sinilah pengalaman akan berperan penting untuk mengambil sikap secara cepat agar masalah selesai dengan baik, dan inilah sesuatu yang didapat bukan pada kitab-kitab besar sebagaimana anggapan orang bahwa ilmu itu ada pada kitab-kitab. Walau memang bahwa belajar memerlukan guru pembimbing, namun dalam belajar menghadapi situasi diperlukan latihan langsung di lapangan. Seandainya kegiatan belajar ini diikuti oleh orang-orang yang sudah mempunyai modal ilmu yang cukup maka akan lebih baik keadaannya.
Itulah sebabnya, Jamaah Tabligh di mushola kecil itu berada di sana untuk belajar. Dan pada hari ini mereka kedatangan seorang preman di desa itu yang berteriak meminta semua yang ada di dalam mushola itu keluar, dengan suara lantang, layaknya seorang pendekar yang haus perkelahian. Dengan wajah bersungut-sungut preman itu mondar mandir di depan musholla yang berhalaman luas itu.
“Hai, semua yang di dalam, keluaaaar!.......! teriaknya.
Anggota majelis ta’lim itu terbelalak kaget, menengok keluar, tetapi pimpinan jamaah hanya menyuruh salah satu untuk keluar menemuinya. Seorang di antara mereka keluar dengan lemah lembut mendekat disertai ucapan salam dan menyerahkan tangan untuk menjabat preman itu tanpa rasa khawatir, bahkan penuh kasih sayang. Sebuah sikap yang berlawanan dengan lelaki yang di depannya. Bagaikan seekor kambing di depan harimau lapar, sikap lembut berhadapan kepongahan preman desa itu sangat menyolok perbedaannya.
Tak disangka, bogem mentah datang dari tangan preman menghujam perut pemuda yang lemah lembut itu, sepontan ia tersungkur di halaman rumah ibadah itu. Melihat pemuda kurus mengenakan jubah putih itu menggelepar kesakitan, agaknya premain itu ketakutan, seketika itu ia mengambil langkah seribu.
Rupanya pukulan preman desa itu tidak bisa dianggap ringan karena menyebabkan pemuda berjenggot tipi situ pingsan. Teman-temannya berhamburan keluar menolongnya, memapah naik ke teras musholla. Untuk pertolongan pertama diberi air minum putih, tetapi kesakitan yang sangat sehingga ia tidak sadar diri. Dan segeralah menghubungi teman sesama anggota pengajian yang tinggal di daerah itu untuk membawanya ke Puskesmas terdekat.
Selama 3 hari ia dirawat di Puskesmas Suradadi sehingga mengurangi jadwal kegiatan i’tikaf dan ibadah rombongan, berganti untuk bergiliran menunggu teman yang sakit. Biaya pengobatan dipikul bersama teman dan bantuan dari penanggungjawab setempat.
Akhirnya, 3 hari sudah lewat, i’tikaf selesai bersamaan dengan selesainya perawatan seorang di antara mereka. Pagi itu jamaah berkemas untuk pulang ke rumah masing-masing. Apa yang terjadi? Ada kabar dari masyarakat bahwa pada hari ini baru ditemukan preman desa itu mati tanpa diketahui tetangga, di rumahnya. Jazadnya sudah berbau tak sedap. Rupanya sudah 2 hari ia mati.
Semenjak kejadian itu, jika ada jamaah i’tikaf di desa itu, tak ada yang berani usil. Inilah kisah yang saya dengar dari seorang teman jamaah, ketika aku i’tikaf 3 di musholla itu bersama jamaah sekitar bulan Januari 2010.
Wallahu a’lam.

Selasa, 26 Oktober 2010

Fungsi Gunung



Dengan perpanjangannya yang menghujam jauh ke dalam maupun ke atas permukaan bumi, gunung-gunung
menggenggam lempengan-lempengan kerak bumi yang berbeda, layaknya pasak. Kerak bumi terdiri atas
lempengan-lempengan yang senantiasa dalam keadaan bergerak. Fungsi pasak dari gunung ini mencegah
guncangan dengan cara memancangkan kerak bumi yang memiliki struktur sangat mudah bergerak.
Al Qur’an mengarahkan perhatian kita pada fungsi geologis penting dari gunung.
"Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak)
goncang bersama mereka..." (Al Qur'an, 21:31)
Sebagaimana terlihat, dinyatakan dalam ayat tersebut bahwa gunung-gunung berfungsi
mencegah goncangan di permukaan bumi.
Kenyataan ini tidaklah diketahui oleh siapapun di masa ketika Al Qur’an diturunkan. Nyatanya,
hal ini baru saja terungkap sebagai hasil penemuan geologi modern.
Menurut penemuan ini, gunung-gunung muncul sebagai hasil pergerakan dan tumbukan dari
lempengan-lempengan raksasa yang membentuk kerak bumi. Ketika dua lempengan
bertumbukan, lempengan yang lebih kuat menyelip di bawah lempengan yang satunya,
sementara yang di atas melipat dan membentuk dataran tinggi dan gunung. Lapisan bawah
bergerak di bawah permukaan dan membentuk perpanjangan yang dalam ke bawah. Ini
berarti gunung mempunyai bagian yang menghujam jauh ke bawah yang tak kalah besarnya
dengan yang tampak di permukaan bumi.
Dalam tulisan ilmiah, struktur gunung digambarkan sebagai berikut:
Pada bagian benua yang lebih tebal, seperti pada jajaran pegunungan, kerak bumi akan
terbenam lebih dalam ke dalam lapisan magma. (General Science, Carolyn Sheets, Robert Gardner, Samuel F.
Howe; Allyn and Bacon Inc. Newton, Massachusetts, 1985, s. 305)
Dalam sebuah ayat, peran gunung seperti ini diungkapkan melalui sebuah perumpamaan
sebagai "pasak":
"Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan?, dan gunung-gunung sebagai
pasak?" (Al Qur'an, 78:6-7)
Disadur dari HarunYahya oleh Rika Hermawan



Dengan kata lain, gunung-gunung menggenggam lempengan-lempengan kerak bumi dengan
memanjang ke atas dan ke bawah permukaan bumi pada titik-titik pertemuan lempenganlempengan
ini. Dengan cara ini, mereka memancangkan kerak bumi dan mencegahnya dari
terombang-ambing di atas lapisan magma atau di antara lempengan-lempengannya.
Singkatnya, kita dapat menyamakan gunung dengan paku yang menjadikan lembaranlembaran
kayu tetap menyatu.
Fungsi pemancangan dari gunung dijelaskan dalam tulisan ilmiah dengan istilah "isostasi".
Isostasi bermakna sebagai berikut:
Isostasi: kesetimbangan dalam kerak bumi yang terjaga oleh aliran materi bebatuan di bawah
permukaan akibat tekanan gravitasi. (Webster's New Twentieth Century Dictionary, 2. edition "Isostasy", New York,
s. 975)
Peran penting gunung yang ditemukan oleh ilmu geologi modern dan penelitian gempa, telah
dinyatakan dalam Al Qur’an berabad-abad lampau sebagai suatu bukti Hikmah Maha Agung
dalam ciptaan Allah.
"Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak)
goncang bersama mereka..." (Al Qur'an, 21:31)

AL QUR'AN DAN ASTRONOMI

Keajaiban Al-Qur’an tentang
AL QUR'AN DAN ASTRONOMI
Asal mula alam semesta digambarkan dalam Al Qur'an pada ayat
berikut: "Dialah pencipta langit dan bumi." (Al Qur'an, 6:101)
Keterangan yang diberikan Al Qur'an ini bersesuaian penuh dengan
penemuan ilmu pengetahuan masa kini. Kesimpulan yang didapat
astrofisika saat ini adalah bahwa keseluruhan alam semesta,
beserta dimensi materi dan waktu, muncul menjadi ada sebagai
hasil dari suatu ledakan raksasa yang tejadi dalam sekejap.
Peristiwa ini, yang dikenal dengan "Big Bang", membentuk
keseluruhan alam semesta sekitar 15 milyar tahun lalu. Jagat raya
tercipta dari suatu ketiadaan sebagai hasil dari ledakan satu titik
tunggal. Kalangan ilmuwan modern menyetujui bahwa Big Bang
merupakan satu-satunya penjelasan masuk akal dan yang dapat
dibuktikan mengenai asal mula alam semesta dan bagaimana alam semesta muncul menjadi
ada.
Sebelum Big Bang, tak ada yang disebut sebagai materi. Dari kondisi ketiadaan, di mana
materi, energi, bahkan waktu belumlah ada, dan yang hanya mampu diartikan secara
metafisik, terciptalah materi, energi, dan waktu. Fakta ini, yang baru saja ditemukan ahli
fisika modern, diberitakan kepada kita dalam Al Qur'an 1.400 tahun lalu.
Sensor sangat peka pada satelit ruang angkasa COBE yang diluncurkan NASA pada tahun
1992 berhasil menangkap sisa-sisa radiasi ledakan Big Bang. Penemuan ini merupakan bukti
terjadinya peristiwa Big Bang, yang merupakan penjelasan ilmiah bagi fakta bahwa alam
semesta diciptakan dari ketiadaan.
Disadur dari HarunYahya oleh Rika Hermawan

Rasulullah Saw dan pengemis buta

Di sudut pasar Madinah ada seorang pengemis Yahudi buta yang setiap harinya selalu berkata kepada setiap orang yang mendekatinya, "Wahai saudaraku.. jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya maka kalian akan dipengaruhinya".

Namun, setiap pagi Muhammad Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawakan
makanan, dan tanpa berucap sepatah kata pun Rasulullah SAW menyuapkan makanan yang dibawanya kepada pengemis itu sedangkan pengemis itu tidak mengetahui bahwa yang menyuapinya itu adalah Rasulullah SAW. Rasulullah SAW melakukan hal ini setiap hari sampai beliau wafat.

Setelah wafatnya Rasulullah SAW praktis tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu. Suatu hari sahabat terdekat Rasulullah SAW yakni Abubakar RA berkunjung ke rumah anaknya Aisyah RA yang tidak lain tidak bukan merupakan istri Rasulullah SAW dan beliau bertanya kepada anaknya itu, "Anakku, adakah kebiasaan kekasihku yang belum aku kerjakan?".

Aisyah RA menjawab, "Wahai ayah, engkau adalah seorang ahli sunnah dan hampir tidak ada satu kebiasaannya pun yang belum ayah lakukan kecuali satu saja”

"Apakah itu?", tanya Abubakar RA.

"Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang ada di sana", kata Aisyah RA.

Keesokan harinya Abubakar RA pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikan kepada pengemis itu. Abubakar RA mendatangi pengemis itu lalu memberikan makanan itu kepadanya. Ketika Abubakar RA mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil menghardik, "Siapakah kamu?".

Abubakar RA menjawab, "Aku orang yang biasa".

"Bukan! Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku", bantah si pengemis buta itu.

"Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut setelah itu ia berikan padaku", pengemis itu melanjutkan perkataannya.

Abubakar RA tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, "Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu. Aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW".

Seketika itu juga pengemis itu pun menangis mendengar penjelasan Abubakar RA, dan kemudian berkata, "Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia.."

Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat di hadapan Abubakar RA saat itu juga dan sejak hari itu menjadi muslim.

Ada beberapa pelajaran yang dapat dipetik dari kisah di atas; pertama, berbuat baik kepada orang lain tak mesti harus diketahui oleh orang yang menerima kebaikan itu, nanti Allah akan membuka kebaikan kita kepada banyak orang walau kita telah mati, misal lain yang mudah; mendoakan (di malam hari, di dalam rumah, ketika selesai sholat tahajjud) tetangga yang belum mau melakukan sholat, mendoakan orang lain yang mengganggu agar mendapat hidayah agar mengentikan kejahatan yang ia lakukan. kedua, perbuatan baik itu tidak mesti mendapat pujian, terkadang malah dicaci-maki, ini memerlukan mental kesabaran yang cukup. Ketiga, kebaikan itu dibuat tanpa melihat status orang lain, walau kepada orang yang derajatnya rendah sekalipun, atau manusia yang tak lagi berarti dalam kehidupan.

Nah, wahai saudaraku, bisakah kita meneladani kemuliaan akhlaq Rasulullah SAW? Atau adakah setidaknya niatan untuk meneladani beliau? Beliau adalah adhimul akhlaq (khuluqin ‘adhiim), semulia-mulia akhlaq.

Kalaupun tidak bisa kita meneladani beliau seratus persen, alangkah baiknya kita berusaha meneladani sedikit demi sedikit, kita mulai dari apa yang kita sanggup melakukannya. Dengan hal-hal yang mudah.

Rabu, 15 September 2010

DEFINISI DA'WAH

Banyak masyarakat kita mendefinisikan da’wah adalah kegiatan seorang yang memiliki ilmu agama yang luas dan dalam, kemudian naik ke podium untuk mengutarakan ilmunya yang begitu luas selama berjam-jam, sebagaimana yang dilakukan para orator terutama tokoh-tokoh politik di zaman sekitar kemerdekaan negeri ini. Dengan vokal dan mimik yang mengagumkan sehingga disambut riuh-rendah yang hadir. Decak kagum bersahut-sahutan atas prestasi penceramah.

Tidak demikian, da’wah memiliki arti mengajak, dalam pengertian agama, da’wah adalah seseorang mengajak orang lain untuk taat kepada Allah swt. Sebagaimana dilakukan oleh para nabi dan rasul. Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa da’wah merupakan jalan hidup Rasulullah saw. Tersebut dalam Surat Yusuf ayat 108 ;
           •        
108. Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan Aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik".

Maka sistematika da’wah seperti tersebut di bawah ini :

Dakwah (mengajak) dibagi menjadi 3 bagian;

A. Bil lisan (perkataan)
1. Adzan
2. Ceramah
3. Pidato
4. Khutbah
5. diskusi
6. Seminar
7. Sarasehan
8. Tanya jawab
9. Dialog
10. Debat
11. dll.

B. Bil maal (harta)
1. Zakat
2. Qurban
3. Shodaqoh
4. Infaq
5. Hadiah
6. Hibah
7. dll

C. Bil hal (perbuatan)
1. Memelihara jenggot
2. Penampilan pakaian (termasuk berjilbab)
3. sholat jamaah
4. sholat hari raya
5. mendahului salam
6. senyum manis
7. menolong sesama
8. saling nasihat
9. berlomba berbuat baik
10. Siaturahim, dll.


Kesimpulan;
1. Ceramah agama yang dilakukan para ulama di podium adalah bagian kecil dari da’wah.
2. Da’wah tidak mesti harus dilakukan dengan ceramah
3. Setiap ajaran Islam yang dituntun oleh Nabi SAW. Mengandung unsur da’wah, bahkan dari semenjak bangun tidur Nabi sampai tidur kembali mengandung unsur da’wah yaitu mendekatkan diri, taat kepada Allah SWT yang pada akhirnya menuju keselamatan abadi.
4. Setiap Muslim bisa da’wah, berhak bahkan wajib, karena seorang Muslim wajib mengikuti jalan yang ditempuh Rasulullah saw. Jika ingin selamat dunia dan akhirat.

KISAH SEBUAH TONGKAT DAN SEEKOR ULAR


Wajarlah jika dalam keadaan gelap gulita seseorang hendak memukul ular seharusnya yang diambil tongkat namun ular yang diraihnya. Jika demikian adanya, bukan keselamatan yang diperoleh tetapi marabahaya yang didapatkan. Betapa tidak! Ketika ia meraih ular, belum lagi dapat memukul tongkat itu, ia sudah digigit ular itu dan seketika mati keracunan.

Demikianlah keadaan ummat. Sedemikian gelapnya kebenaran maka mereka akan mengikuti teriakan komando orang lain yang belum tentu berfihak kepada kebenaran yang dibawa Islam itu. Ketika ada teriakan kalau orang yang berjilbab itu perusak persatuan bangsa maka rame-rame mempermasalahkan jilbab. Jika ada seruan diiringi fakta bahwa setiap yang berjenggot adalah teroris maka berbondong-bondong menggunjing jenggot. Apabila ada sekelompok orang lain agama mencaci Kitab Qur’an yang mengatakan sebagai penyebab berjuta-juta umat manusia tersesat, akhirnya nanti ikut juga mencacinya. Bagaimana semua ini kalau sebagian besar ummat Islam yang kegelapan terhadap permainan licik musuh-musuh Islam, latah dengan gerakan mereka? Maka umat Islam akan membenci kewajiban wanita muslim berjilbab, sunnah bagi laki-laki memelihara jenggot sebagai pembeda dengan orang kafir, kemudian meragukan kebenaran isi Kitab Sucinya. Jadilah umat Islam membenci Islam itu sendiri. Hancurlah Islam! Siapa yang untung? Tidak ada yang untung. Dunia akan cepat kiamat jika tidak ada satupun orang yang beriman. Orang Islam jadi kafir, orang kafir jelas neraka.

AMAL DAN WAKTU


Di dalam Islam, setiap amal ada waktunya dan setiap waktu ada amalnya, jika seorang muslim melewati waktu-waktunya dengan beramal sholeh seperti yang dicontohkan Rasulullah saw. Pastilah dia akan mendapatkan keberuntungan hidup dunia dan akhiratnya. Allah bersumpah demi waktu dalam Al-Qur’an bahwa semua manusia mendapatkan kerugian dalam hidupnya kecuali yang beriman dam beramal sholeh kemudian saling nasihat kebenaran dan kesabaran. Itulah jaminan Allah yang pasti.

Pepatah barat menerangkan bahwa waktu adalah uang, maka detik demi detik diusahakan menjadi uang sehingga dalam fikir dan hatinya senantiasa terbetik soal uang dan uang, yang notabene uang adalah identik dengan materi atau kebendaan. Sedangkan benda-benda menempati ruang dan waktu dalam arti benda dunia ini ada batasnya, ada akhirnya. Hanya orang-orang bodoh sajalah yang tidak memikirkan keterbatasan atau kefanaan.

Jika waktu diisi dengan amal sholeh berlandaskan iman yang benar maka hasilnya sangat luar biasa dan kekal abadi. Coba bayangkan keterangan Nabi saw. Yang menjelaskan bahwa satu kata “Subhanallah” yang diucapkan oleh muslim yang benar imannya maka akan tumbuh sebatang pohon di lahan akhirat (syurga). Pohon besar itu jika diukur bayangannya dengan kuda yang berlari cepat maka akan menempuh waktu perjalanan selama 70 tahun. Lalu berapa besar dan tinggi pohon itu? Kemudian jika pohon itu ditebang untuk dibuat kayu bakar di dunia, berapa milyar kubik yang diperoleh? Sedangkan pohon itu spontan tumbuh kembali seperti gambar dalam komputer jika dikopy tidak akan mengurangi file aslinya. Kwalitas kayu hasil penebangan tidak mungkin sama dengan kayu dunia. Soal berapa harga kayu itu perkubiknya jika dijual di dunia tak dapat terbayangkan. Satu kata yang diucapkan dengan ringan dan mudah seorang mu’min akan jadi milyuner sepanjang masa. Belum lagi amal yang lain. Wah betapa ini adalah kemurahan Allah SWT. untuk orang beriman.

Apatah lagi ia menyiarkan kepada orang lain tentang amal sholeh itu sehingga mengikutinya, maka pahala akan mengalir kepadanya. Berapa orang yang mengikuti makin banyak pulsa pahala bertambah tanpa disadari. Penambahan pulsa pahala terjadi sampai tidak ada lagi orang mengamalkan amal sholeh yang diajarkannya, sampai menjelang hari kiamat.

Andaikata seluruh waktu dalam usia seseorang untuk melakukan amal sholeh dan seluruh amal sholehnya diterima, kemudian pahalanya dijadikan bermacam kebutuhan di syurga, tidaklah akan memenuhi luasnya syurga. Banyak lahan di syurga yang luas itu gersang tak ditumbuhi tanaman, gedung ataupun kainnya. Karena itulah ia masih saja menyesali, mengapa dulu tak beramal labih banyak lagi. Apakah mungkin ia beramal tanpa waktu? Karena seluruh waktu dalam usianya sudah digunakan untuk beramal.

Tetapi jika ia mengajak seorang saja untuk beramal sholeh, kemudian orang itu mengikutinya, lalu mengajak beberapa orang, kemudian beberapa orang masing-masing mengajaknya beberapa orang lagi, dan seterusnya, maka orang pertama akan terkejut di syurga, dst,….dst,….dst.

Selasa, 14 September 2010

DUNIA BUKAN LAGI LADANG SUBUR AKHIRAT

Anda tidak lagi dapat dengan mudah menawari es krim kepada sesama penumpang bis sebelah Anda yang baru kenal, jika Anda bermaksud berbuat sopan sebelum makan es krim. Karena kepercayaan sesama penumpang kendaraan sudah dirusak banyak orang di perjalanan. Jika Anda terus memaksakan panganan jalanan meski langsung beli pada pedagang asongan di situ, justru Anda makin dicurigai. Tak mudah lagi berbuat baik.

Jika Anda orang miskin yang mencari riski dengan membeli barang bekas di kampung atau di komplek perumnas, Anda tidak lagi dipercaya sebagai orang miskin yang jujur untuk membeli barang bekas. Karena kepercayaan orang kampung telah dicemari oleh ulah banyak pemulung yang ringan tangan dengan mengambil pot bertanam bunga mahal, atau spion mobil mewah yang diparkir di depan rumah.

Anda tidak lagi dapat memasang air minum gratis bagi orang lewat di depan rumah Anda sebagaimana kakek nenek kita zaman dulu yang suka menyediakan air minum sepanjang jalan dengan gentong dan gayungnya. Orang lewat yang tak kenal sekalipun mau memanfaatkan kebaikan kakek nenek kita. Sekarang takkan dapat lagi. Karena rasa egois sudah subur pada setiap orang, dan kecurigaan sudah merambah dimana-mana.

Kalau Anda seorang muslim yang hendak mengamalkan ajaran Islam, bersilaturahim kepada sesama muslim di daerah lain, Anda tidak lagi mudah mengamalkannya. Anda akan dituduh sebagai tokoh gelap yang tengah mencari pengikut, walau sebersih niat apapun.

Apalagi jika Anda menawarkan “Keselamatan dan kesuksesan hidup dunia dan akhirat hanya pada amalan agama yang sempurna sebagaimana dicontohkan Rasulullah saw. Dan dibuktikan para sahabat beliau r.anhum, Anda akan dianggap orang aneh dan asing yang perlu dicurigai, orang sesat dan sebagainya, walau Anda tidak sesen pun meminta upah darinya. Walau itu benar adanya, karena masyarakat telah jenuh dengan propaganda kosong di dunia ini.

Namun,

Kalau Anda menjadi dalang wayang kulit yang mengumbar lelucon, fitnah, propaganda, walau bahasanya menggunakan seluruh nama penghuni kebun binatang disebutkan, Anda akan jadi pahlawan, dielu-elukan khalayak bahkan Anda berhak mencalonkan diri sebagai calon bupati, sebagian khalayak mengiayakan dan sebagiannya piker-pikir, kan sudah dapat dukungan 50 persen, tinggal menunggu taktik serangan fajar jadi 90 persen. Jadi deh! Karena masyarakat konyol maunya pemimpin konyol juga.

Jika Anda propaganda jadi penyihir walau tak ahli jadi tukang sihir, maka segera terbentuk kerumunan penonton menunggu Anda mempraktikkan sihirnya, mereka setia menunggu sampai Anda membubarkan kegiatannya walau tak terbukti Anda bisa main sihir. Karena masyarakat buta kebenaran.

Tetapi,…. Tetapi kalau aku bilang, “Mari kita hancurkan kehidupan ini!” Maka mereka akan mengejarku dan menuduhku sebagai pengacau. Oh, ternyata masih ada kehidupan dalam hati mereka yah! Memang hati selamanya jujur.

Namun dunia sudah gersang.

PEWARIS PARA NABI IALAH ULAMA

Dari sebuah hadits menerangkan bahwa para ulama adalah pewaris para nabi, (Al-‘ulama warotsatul anbiyaa) Ini benar adanya bahwa di dunia ini, di zaman akhir ini tiada lagi diturunkan nabi baru walau kerusakan zaman semakin parah, bukan dari segi perkembangan ilmu pengetahuan yang rusak namun dari segi keimanan dan tujuan hidup yang hakiki. Manusia dibuat terlena oleh gemerlap kemajuan dunia, sampai-sampai banyak di antara manusia tidak lagi yakin tentang hal yang ghaib. Di sinilah peran para ulama menyimpan khazanah pengetahuan mengenai alam ghaib, surga, neraka, masyar, shirot dan lain-lain termasuk makhluk dan Sang Kholiq. Pengetahuan yang dibawa para nabi melalui wahyu kini dimiliki oleh para ulama. Sungguh berat memang tugas mereka untuk menerangkan pengetahuan yang dimilikinya kepada umat tanpa didukung oleh keajaiban mu’jizat sebagaimana yang diberikan kepada para nabi, mereka memiliki mu’jizat yang menjadi pendukung dakwahnya.

Para ulama, ketika pertamakali berangkat untuk menimba ilmu kepada seniornya, yaitu para ‘ulama di pesantren, mereka membawa niat yang beragam sesuai pola pikir mereka di waktu mudanya. Di zaman tahun 60-an banyak yang membawa bekal niat sesuai dengan zaman itu. Berangkat mondok (istilah orang Tegal) ngaji di pesantren, nanti pulang dipanggil ustadz, dipinang oleh seorang haji kaya di desanya atau desa tetangganya untuk dijadikan menantu kesayangan, diberi bekal yang cukup seumur hidup berupa warisan sawah puluhan hektar, hidup hanya untuk menyiarkan agama tanpa harus bekerja keras banting tulang mencari nafkah, hidup serba kecukupan, maka hidup akan tenang dalam menyiarkan agama. Betapa tinggi gengsinya saat itu.

Zaman berubah, suasana berbeda sehingga banyak masyarakat awam lebih maju dalam bidang ekonomi. Dengan bermodalkan semangat kerja, banyak orang melarat jadi pejabat, banyak anak orang sengsara jadi kaya, tidak sedikit orang pinggiran berpendidikan tingga, melebihi gengsi para ustadz. Perubahan itu meliputi berbagai sudut kehidupan sehingga para penyiar agama makin suram ekonominya. Terjadilah di sana-sini perebutan pengaruh. Alhasil jika sebuah masid atau musholla ada 2 orang ustadz akan sering terjadi konflik, apalagi lebih dari 2. Di wilayah RT ada 2 orang yang pandai memimpin acara keagamaan (misal; Tahlian) maka sering terjadi kekisruhan berebut wilayah, bahkan tidak jarang bikin musholla baru lagi. Percaya tidak, ada 2 musholla hanya berjarak 10 meter. Inilah contoh kecil keadaan masyarakat kita di suatu wilayah dengan ruang lingkup kecil. Dalam wilayah negara bagaimana, coba Anda amati sendiri.

Sekarang kita bicara tentang tema kita, “Ulama adalah pewaris para Nabi.”

Untuk membicarakan tema di atas saya kemukakan sebuah permisalan sederhana. Ada seorang petani yang memiliki 30 hektar tanah pertanian. Ia juga mempunyai 3 orang anak. Tanah pertanian itu diwariskan kepada ketiga anaknya masing-masing 10 hektar.

Anak pertama mengolah tanah itu persis seperti yang dilakukan oleh ayahnya. Menanam padi jika musim hujan dan palawija jika musim kemarau. Ia cinta dengan pekerjaannya itu sebagaimana yang dilakukan oleh ayahnya. Sehingga sifat-sifat petani menurun padanya sebagaimana sifat ayahnya.

Anak kedua menyewakan tanah warisnya itu kepada orang lain yang kemudian diolah oleh penyewanya itu untuk membuat batu bata. Ia bekerja tidak lagi sebagai petani namun ia mengaku anak petani dan masih mengaku dengan bangganya punya sawah pertanian yang luas.

Anak ketiga menjual tanah pertanian warisan orang tuanya kepada orang lain dan alih profesi sebagai pedagang dengan modal uang hasil penjualan sawahnya. Ia tidak lagi punya tanah tetapi ia berdagang hasil pertanian dan obat-obatan.

Pertanyaan : Anak ke berapakah yang benar-benar masih sebagai petani? Tentu semua orang akan menjawab anak pertama. Tidak ada yang dapat membuat keraguan untuk menjawab pertanyaan itu.

Demikian jugalah siapa Ulama yang menjadi benar-benar pewaris para nabi? Jawaban akan beragam tergantung kepada siapa Anda bertanya dan siapa yang memberi jawaban. Tentu semua akan mengatakan “Akulah pewaris para nabi!” Inilah jawaban yang menjebabkan suasana keberagamaan seperti sekarang yang ada di desa-desa. Akankan berubah menjadi lebih baik? Allah mengklaim di dalam Kitab Qur’an bahwa Dia tidak akan merubah suatu kaum sehingga mereka mau merubah (menyadari) diri masing-masing (kemudian merubahnya). Namun dibutuhkan segelintir orang yang rela berkorban menjadi pelopor perubahan itu. Dia itu harus benar-benar mencontoh Nabi SAW baru akan terwujud, karena dialah sang pewaris nabi yang asli.

Wallahu a’lam.

Jumat, 27 Agustus 2010

Pendidikan seumur hidup


“Long life educations.” adalah slogan yang dikenal di dari barat, bahwa manusia mengalami proses pendidikan selama ia hidup, semenjak kecil, bahkan sejak di dalam kandungan ibunya sampai tuanya bahkan menjelang kematian, manusia selalu berinteraksi dengan lingkungan, menerima informasi yang dapat mempengaruhi perubahan pada dirinya. Informasi dari lingkungan inilah yang disebut proses pendidikan. Dengan interaksi itu manusia akan mengalami perubahan sedikit atau banyak, pelan atau cepat, bertambah menjadi baik atau sebaliknya. Islam juga mengenal landasan pendidikan itu sesuai dengan hadist Nabi saw. Yang artinya,”Carilah ilmu dari ayunan bunda sampai ke liang lahat.” Hadist ini mengandung perintah yang bersifat wajib bagi ummat Islam dalam menempuh pendidikan.

Dalam proses pendidikan orang membagi-bagi usia belajar bagi manusia sehingga ada usia pra sekolah, usia sekolah dan masa tua. Lahirlah lembaga-lembaga pendidikan yang ada sekarang. Baik itu Taman Kanak-kanak, Pendidikan dasar maupun lanjutan bahkan perguruan tinggi. Sebenarnya lembaga pendidikan yang disebut di atas karena pengaruh dari metode pembelajarannya yaitu metode klasikal, dimana peserta didiknya mempunyai usia rata-rata. Kecuali di perguruan tinggi ada yang usianya heterogen.

Jika pada lembaga pendidikan lain yang menggunakan berbagai metode maka kita akan melihat lembaga pendidikan di pesantren. Di sana digunakan metode individual di samping juga menggunakan metode klasikal. Ketika menguji pelajaran hafalan dalam pesantren menggunakan metode individual. Siapa yang lebih cepat dia akan segera selesai menghadap gurunya. Tidak pandang usia.

Ceramah digunakan pada acara pertemuan umum, biasanya seluruh santri berbagai usia dikumpulkan dalam satu tempat kemudian ustadz menyampaikan ceramah. Namun ketika melakukan kajian yang bersifat umum tetapi pesertanya setara maka digunakan metode klasikal. Demikianlah masih banyak metode lain dalam proses pembelajaran.

Lain halnya dengan JT (Jamaah Tabligh). Pesertanya beragam segala aspek. Tua-muda, alim-awam, kaya-miskin, dll. Ketika dibentuk satu rombongan (jamaah) untuk dikeluarkan beranggotakan peserta didik yang heterogen. Dan alam ini sebagai ruang kelas tempat belajar. Sarananya semua yang ada di alam ini. Materi pelajaran segala sifat-sifat Rasulullah saw. Targetnya 6 sifat para sahabat Rasul. Kegiatan pembelajarannya ta’lim fadilah amal, praktik ibadah yang dicontohkan Rasulullah saw. Evaluasinya setiap anggota yang telah keluar di jalan Allah mengalami perubahan sikap yang signifikan. Lembut, ramah, sabar, dermawan, pemaaf, dll. Dan trget belajarnya sampai mati sesuai dengan prinsip pendidikan yang telah disebutkan diatas.

Jamaah Tabligh adalah penomena penyelenggaraan pendidikan seumur hidup bagi manusia yang real, sederhana namun lengkap dari berbagai sisi.

Real, nyata karena bukan dengan teori yang muluk-muluk namun praktiknya nyata di lapangan. Sederhana karena muda dilaksanakan tanpa perencanaan biaya dan tetek bengek yang memusingkan. Lengkap dari berbagai sisi, bagi peserta, orang yang melihat maupun masyarakat yang didatangi bahwa kedatangan mereka merupakan proses dan materi belajar yang efektif bagi perkembangan emosi, pengalaman hidup dan perubahn sikap masing-masing.

Coba saja satu misal kejadian; di suatu tempat (masjid/mushola) kedatangan rombongan jamaah tabligh yang akan membuat program yang biasa dilakukan dimana-mana selama3 hari 3 malam di situ. Karena faktor kecurigaan pada masyarakat yang didatangi maka mereka mengusirnya. Dari peristiwa itu maka akan timbul aspek-aspek pendidikan bagi semua.
1. Bagi jamaah yang diusir akan menambah sifat sabar, koreksi diri, menambah kedekatan dengan sang Kholik dengan menambah amal ibadahnya, dll. Bagi peserta yang belum memahami malah jadi takut atau marah.
2. Bagi yang melihat kejadian itu bisa saja akan timbul rasa kasihan, ingin menolong, atau penasaran hatinya ingin tahu maksud mereka. Sehingga ia mencanangkan suatu hari akan menemui jamaah itu di tempat atau hari lain. Atau sebaliknya ia membela pengusir tadi.
3. Bagi pengusir ada yang memang berhati keras, tetapi ada juga yang bimbang atas perbuatannya, sehingga ia suatu saat merenunginya dan di saat yang lain banyak juga pengusi jadi pengikut setia. Berakhlah menjadi lebih baik daripada ketika belum ikut serta. Dan banyak lagi yang belum disebutkan. Karena itu hanya sekedar contoh.

Seluruh umat perlu pendidikan dan perlu dididik. Jamaah Tablgh adalah tempat pendidikan manusia tanpa batas.